#MenikahJadiBerkah Part 6
umur tidak pernah menentukan kedewasaan, perjalanan kehidupan ini lah yang mendewasakanAssalamu'alaikum semuanya ...
Tulisan
kali ini membahas tentang "kedewasaan" kami diusia muda.
Banya
tuisan dan artikel yang mengatakan “tua itu pasti-dewasa belum tentu”, Kami
(Saya dan Istri) setuju dengan konsep ini, tapi bagaimana seorang itu bisa
tumbuh dewasa dan matang dalam pemikiran ? diusia yang muda bahkan bisa dikatakan ABG.
Kami
memutuskan menikah diusia 20 tahun yang orang bilang masih terlalu muda,
padahal teman dari istri Saya sudah menikah setahun sebelumnya, sekali lagi
Saya tulis di part ini bahwa “menikah adalah kepantasan”- dari kalimat ini kita
bisa belajar bahwa menikah itu bukan suatu yang diukur oleh angka tahunan yang
kita sebut umur, atau angka dalam nominal rupiah yang kita sebut harta atau
bahkan angka (derajat) dalam bentuk kedudukan tapi menikah adalah siapa yang
pantas dalam pandangan dan penilaian Allah SWT.
Kembali
ketema tentang kedewasaan dimasa muda, banyak yang bilang, dan sepertinya memang
iya, bahwa Saya berfikir lebih tua dari orang seusia Saya, bahkan ketika rekan
kerja saya mengatakan Saya terlalu ngoyo
dalam mengejar karir sehingga diusia 23 tahun sudah menjadi Head Departement
setingkat asmen dan membawahi kurang lebih 980 karyawan seluruh Indonesia pada perusahaan
Outshortching anak dari perusahaan BUMN Penerbangan, disitu Saya baru sadar
bahwa Saya berlebihan-dan disatu sisi saya masih memiliki target hidup untuk
bisa pensiun dini dan menikmati hasil pekerjaan sebelum mencapai 50 tahun.
Saya dipaksa untuk menjadi dewasa dengan cepat karena tuntutan keadaan ekonomi, Saya harus menyelesaikan pendidikan dengan dibantu yayasan panti asuhan, Saya harus bersikap "dewasa" ketika menghadapi masalah apapun karena biar bagaimanapun tidak akan maksimal bantuan orang lain pada saat itu untuk menyelesaikan setiap masalah, ketika lelah dengan itu saya menangis saja sejadinya didalam malam sambil berbaring di kasur tingkat khas asrama.
Ini
yang membuat Saya segera "dewasa" tuntutan keadaan yang memaksa, lantas apa
mungkin orang yag hidup dalam keadaan keluarga yang “normal” bisa menjadi dewas
lebih awal dalam pemikiran ?
Jawabannya
adalah bagaimana Kita menjalankan waktu, ada waktu yang memang harus belajar,
ada waktu yang harus main, ada waktu untuk santai, ada waktu untuk serius dan
ini hanya bisa dilakukan kalau semua sudah dilatih, saya dilatih keadaan saat
itu, bagi yang normal yang melatih "kedewasaan" adalah rasa syukur.
Syukur yang baik akan dapat menghadirkan rasa cukup dalam diri, rasa cukup ini yang melatih setiap individu untuk berfikir lebih "dewasa", ketika melakukan sesuatu, Saya memiliki teman yang dia memilih menikah muda dan menjalankan kehidupan rumah tangga yang penuh syukur padahal kalau dia tidak mau “menjadi dewasa” secara segera apa yang ada pada dirinya akan membuat lebih nyaman, ketimbang harus menjadi dewasa dengan segera.
Dalam
hal ini saya tidak mengukur kedewasaan karena menikah muda – tidak sama sekali,
Kedewasaan adalah bentuk penerimaan diri terhadap tanggun jawab yang lebih
besar, ada juga teman saya yang lebih memilih mengurus dan menyekolahkan
adik-adiknya samapai lulus dari pada menikah muda, ini juga bentuk kedewasaan. Atau
dalam kasus lain ada seorang anak muda yang lebih menjaga orang tuanya
ketimbang dia main dengan teman-teman sebaya ini juga bentuk kedewasaan.
Keberanian mengambil tanggung jawab yang lebih dari yang ita mampu, bersabar atasnya, dan bersyukur itulah dewasa, kedewasaan itu fluktuatif mengikuti kepantasan kita.
Saya
dan istri memilih menjadi dewasa lebih awal dengan menikah muda, dan ini kami
jalani dan kami syukuri sembari terus memantaskan diri, saya baru saja
menawatkan sebuah buku yang ringan kalau dibaca tapi memiliki makna yang cukup dalam
judulnya “Seni Memantaskan Diri” karya Brili Agung Zaky Pradika, buku yang
bercerita bagaimana pemantasan diri itu berjalan seiring waktu bukan hanya saat
kita mencapat tujuan saja.
Saya dan Istri terus berusaha memantasakan diri, menjadi orang tua, menjadi guru, menjadi sahabat, menjadi mentor, menjadi kompetitor, bahkan mejadi peran kami masing-masing sebagai suami atau istri.
Kedewasaan
beriringan dengan kepantasan, ayo terus pantaskan diri kita untuk hal yang kita
capai, itu namanya tanggung jawab, dan bertanggung jawab atas apa yang kita pilih adalah salah satu bentuk
dari kepantasan.
RB
Komentar
Posting Komentar